Headlines:
DIHARAPKAN SEBELUM MELAKUKAN DEPOSIT MOHON HUBUNGI CS KAMI UNTUK KONFIRMASI REKENING TERBARU KAMI. KAMI TIDAK BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP PENGIRIMAN KE REKENING YANG SUDAH TIDAK DIGUNAKAN
Gianluigi Donnarumma, Fans Italia Yang Naif & Harga Sebuah Kesetiaan: Beri Spanyol 'Karpet Merah'

dunia sport88 - Ketika heroisme Gianluigi Donnarumma di Euro 2020 tak ada artinya dibanding nilai sebuah kesetiaan bagi fans Italia loyalis AC Milan.

Fans Italia harusnya bisa bersatu di atas segalanya untuk mendukung negara mereka, sebagaimana atmosfer hebat yang diberikan ketika tim sukses menutup Kejuaraan Eropa 2020 lalu dengan torehan kampiun.

Namun, yang terjadi kini benar-benar kontras. Loyalis Gli Azzurri terpecah. Sebagian besar justru mencemooh pemainnya sendiri. Gianluigi Donnarumma mungkin tak akan pernah melupakan malam paling mengerikan dalam kariernya.

Di sepanjang pertandingan semi-final Nations League kontra Spanyol, dan setiap kali eks penjaga gawang AC Milan itu menyentuh bola, dia mendapatkan caci maki kasar dari para suporter negaranya sendiri

Tak peduli lagi seberapa besar sikap heroisme Donnarumma ketika mengantar Italia berdiri di podium juara Euro 2020 dengan menyelamatkan dua penalti saat bentrok dengan Inggris di final.

Alih-alih mendapatkan sambutan menyenangkan ketika pulang ke Milan, ternyata mimpi buruk yang didapatkan kiper yang kini memperkuat Paris Saint-Germain tersebut.

Tak dimungkiri, rupanya masih banyak fans Italia yang mendukung Milan, menyimpan sakit hati yang teramat dalam bahkan dendam terhadap Donnarumma.

Seperti diketahui, Donnarumma merupakan produk asli binaan Rossoneri. Sejuta kisah antara dirinya dan klub terajut manis di San Siro, stadion yang sama di mana Italia dan Spanyol berduel di fase empat besar Nations League.

Di akhir masa baktinya bersama Milan, di mana dia melakoni debut untuk klub itu pada usia 16 tahun, hubungan antara dia dan fans seketika berubah menjadi beku.

Semua berawal dari penolakan Donnarumma untuk menandatangani kontrak baru di Milan. Sang kiper akhirnya memutuskan mengepak koper dari San Siro untuk bergabung ke jawara Prancis Paris Saint-Germain secara cuma-cuma! Untuk kiper top kaliber dia, episode transfer gratisan ini tentu mengejutkan banyak pihak.

Padahal di musim-musim sebelumnya, nama Donnarumma dikaitkan dengan deretan klub top Eropa yang siap menggelontorkan fulus hampir mencapai Rp 1 triliun untuknya, yang mana tentu hal ini akan sangat memberi impak keuntungan bagi Milan bila terealisasi.

Ada banyak intrik perihal kepindahan ke Paris yang melibatkan antara Donnarumma, pihak Milan dan agen sang kiper, Mino Raiola.

Sang agen disebut-sebut sebagai biang kerok dari kepindahan Donnarumma dengan meminta Milan menaikkan gaji kliennya itu demi mengejar komisi yang menggiurkan, sementara PSG sudah pasang kuda-kuda untuk menyodorkan gaji €12 juta per musim buat sang penjaga gawang -- nominal yang tak bisa dipenuhi manajemen Rossoneri.

Bagaimanapun kebenaran di balik saga transfer Donnarumma, fans sudah terlanjur melihat ini sebagai bentuk pengkhianatan terbesar. Lebih jauh lagi, fans memandang Donnarumma pindah karena faktor uang.

Pasalnya, Donnarumma dibesarkan Milan dari nol dengan dukungan penuh dari para fans, hingga bisa menjadi kiper kelas dunia, tetapi akhirnya harus berpisah dengan tanpa meninggalkan satu sen pun pemasukan untuk Il Diavolo.

Di momen perpisahannya, Donnarumma sempat menyampaikan: "Sekarang, saatnya mengucapkan selamat tinggal, sebuah pilihan yang tidak mudah."

"Dan postingan ini tentu tidak cukup untuk mengungkapkannya. Mungkin, tidak bisa diungkapkan karena perasaan terdalam hampir tidak bisa diterjemahkan dalam kata-kata," jelasnya.

Apa lacur, para pemuja Milan tak bisa menerima kenyataan ini. Imbasnya, Donnarumma pun jadi bulan-bulanan ketika kembali ke San Siro untuk memainkan semi-final Nations League kontra Spanyol.

Mental Donnarumma dihabisi fans Italia yang mendukung Milan. Alhasil, kiper 22 tahun itu tak bisa berbuat banyak meredam torehan dobel dari Ferran Torres di menit ke-17 dan tambahan waktu babak pertama. Italia hanya bisa menghibur diri lewat gol Lorenzo Pellegrini di 45 menit kedua.

Fans Italia harus membayar mahal kekalahan ini, namun sikap naif mereka terhadap Donnarumma pun menggambarkan betapa berharganya arti kesetiaan di San Siro.